Bagaimana Start-up Founder Pakai Sosmed?

Awalnya dipakai untuk bersenang-senang, kini media sosial bertambah fungsi menjadi tempat ‘beriklan’. Tak hanya brand-brand ternama yang mulai beriklan di media sosial tetapi akun personal juga mulai ‘memasarkan’ diri dalam beberapa postingan mereka, termasuk para start-up founder. Lantas, bagaimana seorang start-up founder menggunakan media sosialnya?

MENGAPA HARUS PAKAI MEDSOS?

Saat ini, media sosial menjadi bagian penting dari cara seseorang berkomunikasi dan menyelesaikan pekerjaan. Bagi orang biasa, mungkin media sosial menjadi tempat berekspresi dan mencari konten lucu. Tapi, bagi seorang start-up founder? Media sosial bisa juga menjadi ladang untuk berkomunikasi dengan konsumen atau berkoneksi dengan pebisnis lain. Selain menjadi tempat berekspresi, bahkan media sosial juga menjadi cara bagi bisnis usaha agar memasarkan produk dan jasanya. Lantaran, bisnis bergantung pada platform seperti Facebook, Instagram, dan Twitter untuk mempromosikan brand, menghasilkan leads, dan mendistribusikan konten.

Tidak menutup kemungkinan, media sosial menjadi alat pemasaran yang kuat dengan banyak kelebihan untuk pertumbuhan sebuah bisnis. Karena pada dasarnya, media sosial memungkinan seseorang melakukan setidaknya empat hal penting: menemukan ide baru, terhubung secara mendalam dengan audiens-nya, menarik perhatian dan membawa traffic ke pekerjaan, serta membangun dan meningkatkan brand yang dimiliki.

LEBIH DARI SEKADAR EKSPRESI DIRI

Seraya masyarakat di dunia menghabiskan waktu lebih sering di media sosial, para start-up founder harus mempertimbangkan bagaimana mereka dapat memanfaatkan perubahan perilaku konsumen untuk memperkuat brand mereka. Karena intinya, start-up founder membangun bisnis bersamaan dengan membangun image mereka bagi konsumen.

Salah satu caranya adalah menjadi diri sendiri, menunjukkan diri di luar jabatan. Peristiwa hidup, minat pribadi, dan ambisi terbesar seseorang membuat kisahnya unik. Selain itu, kesulitan hidup dapat menguntungkan karena dapat menunjukkan sisi kemanusiaan seseorang. Disinilah identitas bertemu dengan tujuan. Setiap orang memiliki kekurangan, dan konsumen senang mempelajari bagaimana para pemimpin industri bangkit dari kesulitan.

Selain itu, seorang startup founder bisa menggunakan media sosialnya dengan pola pikir, “Apa yang membuat orang mengecek akunmu, penasaran dengan produk yang kamu buat?” Ini bisa dimulai dengan memberikan konten yang sesuai dengan tujuan strategis brand dan terikat pula dengan identitas si start-up founder. Bisa dengan memberikan sebuah informasi yang bisa dipakai, baik itu motivasional, menarik, atau justru membuat orang berpikir.

Kemudian, CEO activism itu penting. Media sosial menawarkan kesempatan untuk berkontribusi dalam hal isu sosial, dan ini menunjukkan bahwa seseorang peduli akan the greater good daripada kesehatan bisnisnya. Contohnya, Moses Lo, CEO dan Founder Xendit melalui akun Twitter personalnya, menawarkan bantuan bagi start-up di daerah Asia Tenggara yang terdampak dari jatuhnya Silicon Valley Bank dan membutuhkan modal kerja.

Berdasarkan hal ini, seorang start-up founder dapat menggunakan media sosialnya untuk ‘mengiklankan’ diri (dalam bentuk CEO activism) dan secara tidak langsung memperkenalkan orang di media sosial terhadap produk yang ia miliki.

TIAP MEDSOS PUNYA CARA TERSENDIRI

Media sosial dinilai lebih efektif untuk start-up, usaha kecil, dan usaha yang baru saja memulai bisnisnya. Meskipun demikian, sulit untuk memisahkan penggunaan media sosial secara pribadi dan profesional, dan apapun yang seseorang katakan di media sosial dapat digunakan orang untuk hal buruk. Jadi, lebih serius seseorang dalam menjaga aktivitas media sosialnya, lebih baik.

Memakai LinkedIn itu esensial untuk membuat jaringan secara profesional. Mungkin semua orang punya akunnya, tapi belum tentu tahu cara pakainya. Kebanyakan memakai LinkedIn untuk mencari pekerjaan baru. Namun, LinkedIn lebih tepat untuk digunakan sebagai alat manajemen karir. Tak hanya itu, LinkedIn juga menawarkan banyak cara untuk terkoneksi dengan orang profesional terkait di industri yang ditekuni. Kuncinya adalah menemukan, mendekati, dan terhubung dengan orang yang sudah dikenal, orang yang ingin seseorang kenal, dan orang yang harus seseorang kenal.

Ketika menggunakan Twitter, seseorang terpatri untuk berbagi ide, pikiran, dan tanggapan akan sesuatu. Namun, perlu diingat bahwa singkatnya sebuah twit, bersama dengan penggunaan foto dan video yang strategis, akan terus membantu seseorang menonjol; tak perlu menggunakan semua 280 karakter di setiap postingan. Sifat instan dari Twitter berarti seseorang bisa tahu secara langsung tentang perkembangan di bidang yang dijalani serta bisa menjadi bagian dari percakapan global yang melampaui teman mutual orang tersebut. Lalu, netizen Twitter juga mengapresiasi tata bahasa, ejaan, dan tanda baca yang baik demi menciptakan kesan yang baik.

Kemudian, Facebook yang merupakan media sosial paling kuat dan influensial. Media platform in bisa digunakan untuk berkoneksi dengan influencers di bidang yang sama, berbagi artikel yang menunjukkan minat, serta membantu membentuk image orang lain terhadap orang tersebut. Algoritma Facebook menentukan konten apa yang ditunjukkan untuk orang-orang tertentu dan tergantung dari pengaturan akun orang itu sendiri. Ini mencakup seberapa relevan konten bagi audiens seseorang.

Instagram pun semakin menjadi tempat untuk bisnis, lebih dari sekadar berisi gambar dan foto yang aesthetic. Jika pekerjaan seseorang didorong secara visual, maka Instagram harus menjadi bagian dari perangkat bisnisnya. Perusahaan apapun yang ditujukan untuk konsumen, termasuk travel, kecantikan, dll dapat melakukan dengan baik di Instagram, tetapi ada pula perusahaan B2B yang lebih tua seperti Electronic City, Kawan Lama Group, bahkan Blibli yang membuat akun di platform ini. Namun, perlu dicatat bahwa gambar yang diposting brand-brand ternama di Instagram dibuat dengan bantuan profesional, dan kemampuan seseorang untuk meniru kesuksesan tak mungkin terjadi jika bekerja sendiri.

MASUK AKAL DI DUNIA NYATA = MASUK AKAL DI MEDSOS

Perlu diingat bahwa ini hanyalah pedoman umum untuk empat platform media. Sebab, pengalaman dan tingkat keberhasilan tiap orang dalam menggunakan media sosial itu berbeda. Ini lebih kearah seni, daripada sains. Selain itu juga, perlu dihitung faktor perubahan algoritma dan teknologi yang terus berubah.

Terkadang, meluangkan waktu untuk stalking dan menganalisis apa yang orang atau bisnis lain lakukan bisa menjadi cara untuk mengevaluasi kembali jenis postingan apa yang paling cocok untuk seseorang dan bisnis yang dimiliki.